Yang disebut manusia itu merupakan suatu yang utuh, tak dapat dibagi-bagi, begitu menurut psikolog. Inilah arti pertama dari argumentasi yang menggaris-bawahi bahwa manusia adalah "makhluk individual".
Asal mula kata individu berarti "tidak dapat dibagi-bagikan". Sosok individual mengandung makna sebagai makhluk yang tidak dapat dibagi-bagikan (in dividere). Namun demikian, terlepas dari pendapat ahli ilmu jiwa yang sementara itu cukup berharga bagi pengetahuan kita, maka pada kubu lain, berdiri para filusuf yang mencoba memberikan gambaran citra lebih spesifik tentang manusia itu.
Aristoteles misalnya, ia berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja secara tersendiri, seperti kemampuan vegetatif, kemampuan sensitif dan kemampuan intelektual.
Di samping Aristoteles, tampil pula Descartes yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah ditambah zat material yang masing-masing memiliki peraturan-peraturan tersendiri yang malah bertentangan.
Di sela-sela kedua pendapat filusuf di atas, lalu muncul kaum Asosiasionis yang berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri atas unsur-unsur pengalaman sederhana, baik yang menyangkut pengalaman yang sedang berjalan ataupun pengalaman lalu yang secara mekanis menyeruakkan dalil-dalil asosiasi. Katakanlah semacam refleksi (reflections), sensasi (sensations), gagasan (idea) dan kesan (impressions).
Melalui pendapat Wilhelm Wundt setidaknya kita akan merasa puas, karena minimal kita akan mendapatkan citra manusia secara universal dari bambaran universal para ahli ilmu jiwa modern (di antaranya adalah Wilhelm Wundt tersebut). Dikemukakan, jiwa manusia itu merupakan suatu kesatuan jiwa dan raga yang beaksi sebagai keseluruhan.
Sedangkan usungan-usungan pendapat yang perlu dicernakan dari pendapat ahli jiwa modern adalah :
Nah kemudian ada lagi pendapat yang menggaris-bawahi gejala jiwani sehubungan dengan apa yang dinamakan inspirasi dan ilham. Ini adalah pendapat Prof. DR. Notonagoro. Disimpulkan, arti inspirasi selain sebagai bisikan bathin di mana timbul dengan sendirinya, akan tetapi juga mempunyai runtutan dengan apa-apa yang ada cantolannya dari luar.
Mengenai ilham, selain merupakan petunjuk Tuhan yang terbit dalam hati seseorang, maka gejala jiwani ini dapat bercorak karena dua alternatif, yakni terbitnya dalam hati karena memang diyakini sebagai petunjuk Tuhan yang datang dengan sendiri dan terbit dalam hati sebagai petunjuk dari Tuhan oleh sebab adanya permohonan yang sesungguhnya dari seseorang itu sendiri.
Demikianlah, dengan berpijak pada ulasan di atas sebenarnya kita dapat mengupas ihwal manusia yang bisa terhadap proses kreatif oleh sebab adanya wahyu, inspirasi dan ilham. Namun demikian ada yang perlu diingatkan, bahwa manakala kita sedang kreatif, dalam arti bahwa ada masukan yang menyusup ke dalam ingatan ternyata tidak lepas dari semacam duras atau singgung krama yang menuntut "keluanya keringat". Ini berarti bahwa daya rangsang gejala jiwani (bagi kita tentu lebih cocok dikatakan inspirasi dan ilham) kenyataannya tidak mengenal kamus atau istilah "menunggu". Thomas Alva Edison pernah berkata: "Inspirasi hanya 2%, yang 98% adalah keringat".
Begitulah, atas kesadaran pentingnya inspirasi dan ilham, banyak orang yang terlibat untuk memahaminya lebih dalam. Dan merupakan suatu konsensus, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai gejala jiwani, inspirasi dan ilham banyak dipakai orang dalam hubungannya dengan proses kreasi.
Bagi manusia zaman pra-sejarah, zaman kuno maupun zaman modern, tentu saja perlu mengkaji wahyu, inspirasi dan ilham itu dengan proses kreasi yang terus berjalan. Maka dalam kehidupan pribadi seseorang, ketiga gejala jiwani tersebut bisa dianggap cukup menarik serta dapat dijadikan semacam acuan kerangka berfikir dan menghaluskan perasaan.
Dan bagi kita sebagai manusia biasa, selama kreatifitas ada, tentu saja pada porsinya seandainya mampu menempatkan wahyu, inspirasi dan ilham untuk mengenal dan menemukan indentitas pribadi. Dengan suatu harapan bahwa tanggapan realistis dan optimis manakala berpacu dengan kreatifitas, kita bisa lebih banyak untuk menyimak berbagai fenomena yang terus berkembang. Kita memang perlu menyingkap berbagai tabir kehidupan selama dunia ini sendiri terus berputar.
Demikian, semoga bermanfaat untuk referensi ilmu sahabat arena. Amin.
Asal mula kata individu berarti "tidak dapat dibagi-bagikan". Sosok individual mengandung makna sebagai makhluk yang tidak dapat dibagi-bagikan (in dividere). Namun demikian, terlepas dari pendapat ahli ilmu jiwa yang sementara itu cukup berharga bagi pengetahuan kita, maka pada kubu lain, berdiri para filusuf yang mencoba memberikan gambaran citra lebih spesifik tentang manusia itu.
Aristoteles misalnya, ia berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja secara tersendiri, seperti kemampuan vegetatif, kemampuan sensitif dan kemampuan intelektual.
Di samping Aristoteles, tampil pula Descartes yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah ditambah zat material yang masing-masing memiliki peraturan-peraturan tersendiri yang malah bertentangan.
Di sela-sela kedua pendapat filusuf di atas, lalu muncul kaum Asosiasionis yang berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri atas unsur-unsur pengalaman sederhana, baik yang menyangkut pengalaman yang sedang berjalan ataupun pengalaman lalu yang secara mekanis menyeruakkan dalil-dalil asosiasi. Katakanlah semacam refleksi (reflections), sensasi (sensations), gagasan (idea) dan kesan (impressions).
Melalui pendapat Wilhelm Wundt setidaknya kita akan merasa puas, karena minimal kita akan mendapatkan citra manusia secara universal dari bambaran universal para ahli ilmu jiwa modern (di antaranya adalah Wilhelm Wundt tersebut). Dikemukakan, jiwa manusia itu merupakan suatu kesatuan jiwa dan raga yang beaksi sebagai keseluruhan.
Sedangkan usungan-usungan pendapat yang perlu dicernakan dari pendapat ahli jiwa modern adalah :
- Seandainya manusia mengamati sesuatu, maka manusia itu perlu melibatkan seluruh minatnya.
- Selain minat tertentu saja ada hal lain yang sifatnya mempengaruhi suasana hati (mood), seperti misalnya niat dan kebutuhan manusia terhadap dimensi waktu yang dihubungkan dengan apa yang diamati.
- Berjalan pada kawasan ini adalah timbulnya berbagai jalinan pengalaman yang mendorong manusia untuk segera menafsirkan apa yang diamati itu sehingga menimbulkan semacam gejala jiwani yang pada puncaknya kelak berakhir melalui karya di mana keberadaannya tentu saja akan menimbulkan "wah". Dan bertolak dari hal ini kita akan berhadapan dengan apa yang namanya wahyu, inspirasi dan ilham.
Nah kemudian ada lagi pendapat yang menggaris-bawahi gejala jiwani sehubungan dengan apa yang dinamakan inspirasi dan ilham. Ini adalah pendapat Prof. DR. Notonagoro. Disimpulkan, arti inspirasi selain sebagai bisikan bathin di mana timbul dengan sendirinya, akan tetapi juga mempunyai runtutan dengan apa-apa yang ada cantolannya dari luar.
Mengenai ilham, selain merupakan petunjuk Tuhan yang terbit dalam hati seseorang, maka gejala jiwani ini dapat bercorak karena dua alternatif, yakni terbitnya dalam hati karena memang diyakini sebagai petunjuk Tuhan yang datang dengan sendiri dan terbit dalam hati sebagai petunjuk dari Tuhan oleh sebab adanya permohonan yang sesungguhnya dari seseorang itu sendiri.
Demikianlah, dengan berpijak pada ulasan di atas sebenarnya kita dapat mengupas ihwal manusia yang bisa terhadap proses kreatif oleh sebab adanya wahyu, inspirasi dan ilham. Namun demikian ada yang perlu diingatkan, bahwa manakala kita sedang kreatif, dalam arti bahwa ada masukan yang menyusup ke dalam ingatan ternyata tidak lepas dari semacam duras atau singgung krama yang menuntut "keluanya keringat". Ini berarti bahwa daya rangsang gejala jiwani (bagi kita tentu lebih cocok dikatakan inspirasi dan ilham) kenyataannya tidak mengenal kamus atau istilah "menunggu". Thomas Alva Edison pernah berkata: "Inspirasi hanya 2%, yang 98% adalah keringat".
Begitulah, atas kesadaran pentingnya inspirasi dan ilham, banyak orang yang terlibat untuk memahaminya lebih dalam. Dan merupakan suatu konsensus, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai gejala jiwani, inspirasi dan ilham banyak dipakai orang dalam hubungannya dengan proses kreasi.
Bagi manusia zaman pra-sejarah, zaman kuno maupun zaman modern, tentu saja perlu mengkaji wahyu, inspirasi dan ilham itu dengan proses kreasi yang terus berjalan. Maka dalam kehidupan pribadi seseorang, ketiga gejala jiwani tersebut bisa dianggap cukup menarik serta dapat dijadikan semacam acuan kerangka berfikir dan menghaluskan perasaan.
Dan bagi kita sebagai manusia biasa, selama kreatifitas ada, tentu saja pada porsinya seandainya mampu menempatkan wahyu, inspirasi dan ilham untuk mengenal dan menemukan indentitas pribadi. Dengan suatu harapan bahwa tanggapan realistis dan optimis manakala berpacu dengan kreatifitas, kita bisa lebih banyak untuk menyimak berbagai fenomena yang terus berkembang. Kita memang perlu menyingkap berbagai tabir kehidupan selama dunia ini sendiri terus berputar.
Demikian, semoga bermanfaat untuk referensi ilmu sahabat arena. Amin.
Pergaulan | wahyu inspirasi atau ilham?
