Salah satu tujuan dari syari'ah Islam adalah tahdzibul fardi; mendidik pribadi-pribadi muslim agar memiliki budi pekerti yang tinggi dan menghias diri dengan akhlak yang mulia. Di antara akhlak-akhlak yang mulia adalah terbentuknya jalinan ukhuwwah persaudaraan dan persahabatan islamiyyah yang kuat dan juga persaudaraan sesama muslim yang erat. Pembinaan akhlak untuk menjalin ukhuwah ini dalam ajaran Islam antara lain diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah, seperti dalam ibadah shalat. Seorang muslim dididik agar mempunyai kekuatan iman untuk dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Demikian pula diperintahkan untuk berjama'ah dalam melaksanakannya. Demikian pula diperintahkan zakat agar terjalin ukhuwah yang erat antara si miskin dan si kaya, saling berbagi dan menghilangkan rasa dengki dalam hati.
Diperintahkan ibadah haji agar terjalin ukhuwwah islamiyyah dalam skala internasional, sehingga terjalin erat hubungan persaudaraan antara sesama muslim di seluruh dunia. Diperintahkan ibadah shaum agar sesama muslim bahkan dengan sesama manusia terjalin rasa empati dan simpati, yang mengarah kepada sifat persaudaraan.
Begitu pula dalam ibadah penyembelihan hewan qurban. Kaum muslimin dibina agar hidup bersaudara dengan sesama muslim bahkan mewujudkan kedamaian dengan sesama manusia. Dalam ibadah qurban terselip nasihat yang sangat berharga jika direnungkan lebih mendalam lagi, yaitu agar manusia melepaskan diri dari sifat kehewanan, menjauhkan diri dari sifat kebuasannya. Hidup tidak seperti hewan yang hanya untuk makan dan berkembang biak menurunkan keturunannya saja, dengan tidak menghiraukan halal dan haramnya. Demikian pula dengan menyalurkan birahi jangan seperti yang dilakukan oleh hewan, tanpa ikatan pernikahan. Demikian pula dalam hidup kesehariannya hendaknya menjaduhkan diri dari sifat permusuhan, perkelahian dan haus darah, karena yang demikian itu adalah sifat-sifat kebinatangan.
Ibadah qurban atau pendekatan diri kepada Allah swt dengan cara menyembelih udhiyah atau hewan qurban merupakan ritual rutin dilakukan setiap idul Adha oleh kaum muslimin yang kebetulan mendapatkan keluasan dalam rizkinya. Dilihat dari aspek sejarah asal-usul ibadah ini hakikatnya merupakan rekonstruksi sunnah atau cara-cara Nabi Ibrahim as dalam pendekatan dirinya terhadap Sang Pencipta. Di sisi lain sekaligus memperlihatkan bukti kesetiaan seorang hamba terhadap segala perintah-Nya yang harus diteladani oleh umat manusia sesudahnya. Oleh sebab itu Rasulullah saw memberi contoh kepada umatnya agar senantiasa mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim as itu. Jika ditelaah lebih mendalam lagi, dalam ibadah ini terkandung manfaat atau nilai-nilai positif yang sangat menguntungkan bagi umat manusia yang melaksanakannya, baik dilihat dari segi ukhrawiyah atau dari aspek dunyawiyah. Karena bukan semata-mata ritual akan tetapi mempunyai nilai postif dilihat dari aspek sosial dan kultural.
Diperintahkan ibadah haji agar terjalin ukhuwwah islamiyyah dalam skala internasional, sehingga terjalin erat hubungan persaudaraan antara sesama muslim di seluruh dunia. Diperintahkan ibadah shaum agar sesama muslim bahkan dengan sesama manusia terjalin rasa empati dan simpati, yang mengarah kepada sifat persaudaraan.
Begitu pula dalam ibadah penyembelihan hewan qurban. Kaum muslimin dibina agar hidup bersaudara dengan sesama muslim bahkan mewujudkan kedamaian dengan sesama manusia. Dalam ibadah qurban terselip nasihat yang sangat berharga jika direnungkan lebih mendalam lagi, yaitu agar manusia melepaskan diri dari sifat kehewanan, menjauhkan diri dari sifat kebuasannya. Hidup tidak seperti hewan yang hanya untuk makan dan berkembang biak menurunkan keturunannya saja, dengan tidak menghiraukan halal dan haramnya. Demikian pula dengan menyalurkan birahi jangan seperti yang dilakukan oleh hewan, tanpa ikatan pernikahan. Demikian pula dalam hidup kesehariannya hendaknya menjaduhkan diri dari sifat permusuhan, perkelahian dan haus darah, karena yang demikian itu adalah sifat-sifat kebinatangan.
Ibadah qurban atau pendekatan diri kepada Allah swt dengan cara menyembelih udhiyah atau hewan qurban merupakan ritual rutin dilakukan setiap idul Adha oleh kaum muslimin yang kebetulan mendapatkan keluasan dalam rizkinya. Dilihat dari aspek sejarah asal-usul ibadah ini hakikatnya merupakan rekonstruksi sunnah atau cara-cara Nabi Ibrahim as dalam pendekatan dirinya terhadap Sang Pencipta. Di sisi lain sekaligus memperlihatkan bukti kesetiaan seorang hamba terhadap segala perintah-Nya yang harus diteladani oleh umat manusia sesudahnya. Oleh sebab itu Rasulullah saw memberi contoh kepada umatnya agar senantiasa mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim as itu. Jika ditelaah lebih mendalam lagi, dalam ibadah ini terkandung manfaat atau nilai-nilai positif yang sangat menguntungkan bagi umat manusia yang melaksanakannya, baik dilihat dari segi ukhrawiyah atau dari aspek dunyawiyah. Karena bukan semata-mata ritual akan tetapi mempunyai nilai postif dilihat dari aspek sosial dan kultural.
Pergaulan | ukhuwwah persahabatan dengan ibadah
