Bagi seorang muslim do'a merupakan ruhnya ibadah, tanpa berdo'a maka apapun amal yang dilakukan itu akan sia-sia belaka. Seseorang yang tidak pernah berdo'a dia akan dikatakan sebagai orang "sombong", sebab orang tersebut beranggapan kuasa atas segala apapun, tidak membutuhkan pertolongan dari manapun. Padahal orang tersebut nyata-nyatanya lemah dan akan mati, bila Allah Swt membiarkan hidupnya begitu saja.
Dapat ditegaskan di sini bahwa kita membutuhkan pertolongan, terutama pertolongan dari Yang Maha Kuasa Allah Swt. Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah Swt, do'a nya telah dijamin akan diterima / terijabahnya do'a orang tersebut. Hal ini sebagaimana janji Allah Swt dalam Al-Qur'an ayat 186 :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Ketika Allah menerima proposal do'a seorang muslim yang meminta permohonan, maka doanya tersebut akan diproses minimal dengan 3 pilihan :
1. Syarat Do'a harus dengan Ikhlas
Dalam segala hal yang berhubungan dengan beribadah, harus dilandasi dengan Ikhlas karena Allah Swt. Termasuk dalam do'a, bahkan Allah Swt menegaskan dalam QS. Ghafir ayat 14
ادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Dalam sebuah hadits Nabi, Rasululloh bersabda dari sahabat Abu Said RA :
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »
Etika ini ada hubungannya dengan syarat do'a dikabul Allah Swt. Sesuai dengan keterangan hadis Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
4. Tidak tergesa-gesa dalam terkabul doa yang sesuai yang dia pinta
Hal ini sesuai dengan keterangan hadits Nabi berikut ini :
Syaikh Al-Mubarafakturi menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi.
Atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa. Sebab Allah sangat senang terhada orang yang rajin berdoa, karena doa memperlihatkan sikap yang rendah diri, menyerah, dan merasa membutuhkan Allah. Orang yang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan dikabulkan doanya.
Keterangan ayat Allah dalam firman-Nya :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Ini dapat dijawab melalui keterangan Hadits Nabi tentang do'a yang diterima dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا عَلَى الأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
Keterangan ayat Allah Swt dalam hal berdo'a dalam firman-Nya berikut :
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
Sedangkan yang dimaksud “hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya.
Seandainya ada yang mengatakan, sebagian ada doa yang terkabul dan sebagian yang tidak maka bagaimana kita bisa yakin? Jawabannya, bahwa orang yang berdoa pasti akan dikabulkan dan permintaannya pasti akan diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak dikabulkan. Akan tetapi, mungkin dia akan dihindarkan dari musibah semisalnya, diganti pahala, atau ditinggakan derajat di akhirat.
6. Manfaatkan waktu mustajab do'a / berdo'a dengan timing yang tepat
Memanfaatkan waktu yang utama untuk berdoa hal ini disebabkan karena Allah Swt menciptakan waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah bersumpah atas keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada waktu demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi siang, dsb.
Adapun waktu-waktu yang mustajab untuk doa muslim yang pasti terkabul tersebut di antaranya adalah :
Baca juga artikel menarik dalam situs persahabatan ini kisah do'a yang pasti terkabul.
Dapat ditegaskan di sini bahwa kita membutuhkan pertolongan, terutama pertolongan dari Yang Maha Kuasa Allah Swt. Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah Swt, do'a nya telah dijamin akan diterima / terijabahnya do'a orang tersebut. Hal ini sebagaimana janji Allah Swt dalam Al-Qur'an ayat 186 :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)Tetapi mengapa sahabat arena ada yang merasa do'anya belum terkabul? atau do'a kita itu belum direalisasikan oleh Allah Swt. Maka sebagai jawabannya bisa dipastikan bahwa do'a kita tersebut belum memenuhi syarat terkabulnya do'a.
Ketika Allah menerima proposal do'a seorang muslim yang meminta permohonan, maka doanya tersebut akan diproses minimal dengan 3 pilihan :
- Do'a diijabah, dipenuhi sesuai dengan permintaan ketika itu juga.
- Do'a diijabah, dipenuhi tidak sesuai dengan permintaan, yang pasti diganti dengan yang lebih baik.
- Do'a diijabah, dipenuhi sampai batas waktu yang ditentukan, ini bisa diakibatkan karena orang yang berdo'a tersebut belum dipercaya Allah menerima apa yang dipintanya tersebut.
1. Syarat Do'a harus dengan Ikhlas
Dalam segala hal yang berhubungan dengan beribadah, harus dilandasi dengan Ikhlas karena Allah Swt. Termasuk dalam do'a, bahkan Allah Swt menegaskan dalam QS. Ghafir ayat 14
ادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Ghafir : 14).Rasulullah dalam haditsnya pun bersabda tentang syarat do'a itu harus ikhlas karena Allah, hal ini termaktub dalam penjelasan hadist tentang berdoa dalam hadits Nabi :
Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata, “Ar-Rabii’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’?’ Dia menjawab, ‘Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas.’ Saya berkata, ‘Bukankah itu telah dikatakannya?’ Dia berkata, ‘Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main, tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)2. Do'a harus dalam kebaikan, tidak mengandung unsur dosa, permusuhan yang memutuskan tali silaturahmi.
Dalam sebuah hadits Nabi, Rasululloh bersabda dari sahabat Abu Said RA :
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, derajat hasan)3. Sehari-hari mengkonsumsi makanan halal dan pakaian yang pantas.
Etika ini ada hubungannya dengan syarat do'a dikabul Allah Swt. Sesuai dengan keterangan hadis Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimanakah doanya bisa terkabulkan ?” (HR. Muslim)Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, silaturahim dan yang lainnya.
4. Tidak tergesa-gesa dalam terkabul doa yang sesuai yang dia pinta
Hal ini sesuai dengan keterangan hadits Nabi berikut ini :
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu ia mengatakan, ‘Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan’.” (Mutaffaqun ‘alaih)Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan’, yaitu seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Allah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya.”
Syaikh Al-Mubarafakturi menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi.
Atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa. Sebab Allah sangat senang terhada orang yang rajin berdoa, karena doa memperlihatkan sikap yang rendah diri, menyerah, dan merasa membutuhkan Allah. Orang yang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan dikabulkan doanya.
Keterangan ayat Allah dalam firman-Nya :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir : 60)Banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan, seandainya ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya (tekstualnya) pasti tidak mungkin doa tersebut ditolak. Jadi, bagaimana maksudnya ?
Ini dapat dijawab melalui keterangan Hadits Nabi tentang do'a yang diterima dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا عَلَى الأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Tidak ada seorang muslim di dunia berdoa memohon suatu permohonan melainkan Allah pasti akan mengabulkan atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisal.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)5. Hendaknya berdoa dengan hati yang khusyu’ dan yakin doanya pasti akan dikabulkan
Keterangan ayat Allah Swt dalam hal berdo'a dalam firman-Nya berikut :
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan tadharru (berendah diri) dan suara yang lembut” (QS Al-A’raf : 55)Bahkan dalam keterangan hadits nabi perihal berdo'a yang diterima dari sahabat Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hati itu laksana wadah dan sebagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya. Apabila kalian memohon kepada Allah maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Ahmad)Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kalian yakin akan dikabulkan” adalah pengharusan. Artinya, berdoalah sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi sebab terkabulnya doa. Imam Al-Madzhari menjelaskan bahwa hendaknya orang yang berdoa merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya.
Sedangkan yang dimaksud “hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya.
Seandainya ada yang mengatakan, sebagian ada doa yang terkabul dan sebagian yang tidak maka bagaimana kita bisa yakin? Jawabannya, bahwa orang yang berdoa pasti akan dikabulkan dan permintaannya pasti akan diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak dikabulkan. Akan tetapi, mungkin dia akan dihindarkan dari musibah semisalnya, diganti pahala, atau ditinggakan derajat di akhirat.
6. Manfaatkan waktu mustajab do'a / berdo'a dengan timing yang tepat
Memanfaatkan waktu yang utama untuk berdoa hal ini disebabkan karena Allah Swt menciptakan waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah bersumpah atas keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada waktu demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi siang, dsb.
Adapun waktu-waktu yang mustajab untuk doa muslim yang pasti terkabul tersebut di antaranya adalah :
- Sepertiga malam terakhir
- Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
- Setiap selesai shalat fardhu
- Pada saat perang berkecamuk
- Sesaat pada hari jumat
- Pada waktu bangun tidur pada malam hari bagi orang yang sebelum tidur dalam keadaan suci dan berdzikir pada Allah
- Di antara adzan dan iqomah
- Pada waktu sujud dalam shalat
- Saat sedang turun hujan
- Saat ajal tiba
- Malam lailatul qadr
- Pada hari arafah
Baca juga artikel menarik dalam situs persahabatan ini kisah do'a yang pasti terkabul.
Agama | Bagi seorang muslim do'a merupakan ruhnya ibadah, tanpa berdo'a maka apapun amal yang dilakukan itu akan sia-sia belaka. Seseorang yang tidak pernah berdo'a dia akan dikatakan sebagai orang "sombong", sebab orang tersebut beranggapan kuasa atas segala apapun, tidak membutuhkan pertolongan dari manapun.
