Keutamaan dan Fadilah Sujud ketika Shalat. Amal yang paling dicintai oleh Allah swt adalah memperbanyak shalat. Shalat dalam pengertian shalat thathawu', bukan shalat fardlu. Karena yang belakangan ini (shalat fardhu) merupakan suatu kewajiban dengan waktu dan jumlah rakaat tertentu.
Sebenarnya, tanpa shalat sunnah pun, orang bisa saja dijamin masuk surga. Hanya permasalahan yang kemudian timbul ialah, apakah bisa dimestikan bahwa shalat fardhu kita itu baik menurut aturan yang semestinya?. Lama, khusyu' serta cocok dengan sunnah Rasulullah saw? Apakah bisa terjaga benar waktu yang disediakan buatnya? Apakah kita tak pernah teledor melakukannya sehingga mendahulukan kepentingan pribadi atau duniawi ketimbang kepenting diri kita untuk Allah swt?.
Bila kenyataan tersebut tak bisa terhindari dan nyatanya memang begitu, maka di sinilah fungsi shalat sunnah itu yang sebenarnya. Yakni melengkapi kekurangan shalat fardhu dalam berbagai hal yang tercecer. Dengan rajin menunaikannya, maka shalat fardhu yang kurang bagus nilainya itu, menjadi sempurna.
Pada sisi lain, ia mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Dengan sering melaksanakannya, itu mengandung arti ada indikasi kuat baginya buat mendekatkan diri pada Allah. Ia merupakan tali hubungan kewajiban antara hamba dengan ma'budnya. Malah di saat sujud terakhir itu merupakan tempat yang paling dekat hubungan Allah dengan hamba-Nya.
Di samping itu, dengan melaksanakan shalat tathawu' kedudukan orang Islam semakin meningkat. Bukan cuma di dunia saja, di akhirat pun terlebih lagi. Kedudukan di dunia berupa kebesaran jiwanya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang pelik lagi kuat mempertahankan nilai imannya, tidak gampang memperdagangkan diri atau menjual iman. Dengan sebab itu, orang lain akan memperikan sikap tawadlu' dan penuh hormat. Berikutnya, kegembiraan yang tak kalah pentingnya ialah janji Allah untuk menghapus kesalahan dan dosa kita. Ini suatu perhatian Allah yang cukup besar terhadap siapa saja yang mau mendekatkan diri kepada-Nya. Padahal itu baru pahala dari satu rakaat shalat, sedang yang kita lakukan tentu lebih dari itu. Bukan lain kemuliaan-Nya yang dianugerahkan kepada kita sekalian. Maka bila kita tidak bertambah syukur pada-Nya, itu artinya kita adalah hamba-Nya yang celaka dan sengsara hidupnya.
Dalam bentuk rangkuman yang lain, sahabat Ubadah bin Al-Shamit menyatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لله سَجْدَةً إلاَّ كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا حَسَنةً ، وَمَحَا عَنْهُ بِهَا سَيِّئةً ، وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً ، فاسْتَكثِروا مِنَ السُّجود
Hadits di atas kandungan maknanya sama dengan yang tersebut sebelumnya. Hanya rangkuman dan susunan bahasanya yang berbeda. Kemudian kuncinya ditutup dengan anjuran memperbanyak shalat, mengingat pahala yang tersedia cukup besar. Tetapi untuk bisa melaksanakannya memang diperlukan jiwa yang benar-benar mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Karena memang itu merupakan suatu pekerjaan yang berat. Dan kenyataan yang terjadi di masyarakat memanglah demikian. Banyak orang Islam yang dermawan, tapi malas sekali melakukannya. Seperti juga banyak orang yang hampir-hampir tak pernah tercecer puasa dan hajinya, namun shalatnya tidak terjaga sama sekali.
Dalam hadits yang lain lebih khusus tentang fungsi sujud adalah dibawakan oleh sahabat Huzaifah, katanya Rasulullah saw pernah bersabda:
"Tidak ada suatu keadaan pun yang menjadikan seorang hamba lebih dicintai oleh Allah saat itu selain sewaktu Allah menyaksikannya dalam keadaan sujud dengan membenamkan wajahnya di tanah". (HR. Thabrani dalam kitab Al-Aushath).
Sujud yang dimaksud pada hadits di atas adalah sujud dalam shalat. Pada saat yang demikian inilah Allah paling mencintainya. Bukan sujud di luar shalat. Kalimat "Membenamkan wajahnya di tanah" adalah sebuah kinayah atau sindiran sebagai menunjukkan betapa tawadlu' dan hinanya harga diri manusia di hadapan kebesaran dzat-Nya. Dengan keadaan demikian ini menjadikan diri manusia lebih dekat kepada-Nya. Lantaran itu dianjurkan untuk memperbanyak do'a di dalamnya. Baik do'a sujud itu sendiri maupun do'a lain yang seseorang dikehendakinya. Sudah barang tentu agar tidak menambah ketentuan aturan yang sudah ada, maka memperbanyak do'a ini adalah pada sujud terakhir sebelum salam.
Perihal mempernyak do'a itu terdapat pada riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi saw pernah bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد؛ فأكثروا الدعاء
Terakhir, bagi mereka yang aktif melaksanakannya dalam shalat tahajud, akan memberikan bekas warna hitam pada bagian bawah dahinya.
Sebenarnya, tanpa shalat sunnah pun, orang bisa saja dijamin masuk surga. Hanya permasalahan yang kemudian timbul ialah, apakah bisa dimestikan bahwa shalat fardhu kita itu baik menurut aturan yang semestinya?. Lama, khusyu' serta cocok dengan sunnah Rasulullah saw? Apakah bisa terjaga benar waktu yang disediakan buatnya? Apakah kita tak pernah teledor melakukannya sehingga mendahulukan kepentingan pribadi atau duniawi ketimbang kepenting diri kita untuk Allah swt?.
Bila kenyataan tersebut tak bisa terhindari dan nyatanya memang begitu, maka di sinilah fungsi shalat sunnah itu yang sebenarnya. Yakni melengkapi kekurangan shalat fardhu dalam berbagai hal yang tercecer. Dengan rajin menunaikannya, maka shalat fardhu yang kurang bagus nilainya itu, menjadi sempurna.
Pada sisi lain, ia mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Dengan sering melaksanakannya, itu mengandung arti ada indikasi kuat baginya buat mendekatkan diri pada Allah. Ia merupakan tali hubungan kewajiban antara hamba dengan ma'budnya. Malah di saat sujud terakhir itu merupakan tempat yang paling dekat hubungan Allah dengan hamba-Nya.
Di samping itu, dengan melaksanakan shalat tathawu' kedudukan orang Islam semakin meningkat. Bukan cuma di dunia saja, di akhirat pun terlebih lagi. Kedudukan di dunia berupa kebesaran jiwanya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang pelik lagi kuat mempertahankan nilai imannya, tidak gampang memperdagangkan diri atau menjual iman. Dengan sebab itu, orang lain akan memperikan sikap tawadlu' dan penuh hormat. Berikutnya, kegembiraan yang tak kalah pentingnya ialah janji Allah untuk menghapus kesalahan dan dosa kita. Ini suatu perhatian Allah yang cukup besar terhadap siapa saja yang mau mendekatkan diri kepada-Nya. Padahal itu baru pahala dari satu rakaat shalat, sedang yang kita lakukan tentu lebih dari itu. Bukan lain kemuliaan-Nya yang dianugerahkan kepada kita sekalian. Maka bila kita tidak bertambah syukur pada-Nya, itu artinya kita adalah hamba-Nya yang celaka dan sengsara hidupnya.
Dalam bentuk rangkuman yang lain, sahabat Ubadah bin Al-Shamit menyatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لله سَجْدَةً إلاَّ كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا حَسَنةً ، وَمَحَا عَنْهُ بِهَا سَيِّئةً ، وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً ، فاسْتَكثِروا مِنَ السُّجود
"Tak ada seorang hamba pun yang sujud kepada Allah sekali saja, melainkan Allah akan menetapkan baginya pahala kebagusan, menghapus kesalahannya dengan sebab sujud itu, lalu dengannya pula Dia akan meningkatkan kedudukannya lebih tinggi. Lantaran itu perbanyaklah sujud kepada-Nya". (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang sohih)
Hadits di atas kandungan maknanya sama dengan yang tersebut sebelumnya. Hanya rangkuman dan susunan bahasanya yang berbeda. Kemudian kuncinya ditutup dengan anjuran memperbanyak shalat, mengingat pahala yang tersedia cukup besar. Tetapi untuk bisa melaksanakannya memang diperlukan jiwa yang benar-benar mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Karena memang itu merupakan suatu pekerjaan yang berat. Dan kenyataan yang terjadi di masyarakat memanglah demikian. Banyak orang Islam yang dermawan, tapi malas sekali melakukannya. Seperti juga banyak orang yang hampir-hampir tak pernah tercecer puasa dan hajinya, namun shalatnya tidak terjaga sama sekali.
Dalam hadits yang lain lebih khusus tentang fungsi sujud adalah dibawakan oleh sahabat Huzaifah, katanya Rasulullah saw pernah bersabda:
"Tidak ada suatu keadaan pun yang menjadikan seorang hamba lebih dicintai oleh Allah saat itu selain sewaktu Allah menyaksikannya dalam keadaan sujud dengan membenamkan wajahnya di tanah". (HR. Thabrani dalam kitab Al-Aushath).
Sujud yang dimaksud pada hadits di atas adalah sujud dalam shalat. Pada saat yang demikian inilah Allah paling mencintainya. Bukan sujud di luar shalat. Kalimat "Membenamkan wajahnya di tanah" adalah sebuah kinayah atau sindiran sebagai menunjukkan betapa tawadlu' dan hinanya harga diri manusia di hadapan kebesaran dzat-Nya. Dengan keadaan demikian ini menjadikan diri manusia lebih dekat kepada-Nya. Lantaran itu dianjurkan untuk memperbanyak do'a di dalamnya. Baik do'a sujud itu sendiri maupun do'a lain yang seseorang dikehendakinya. Sudah barang tentu agar tidak menambah ketentuan aturan yang sudah ada, maka memperbanyak do'a ini adalah pada sujud terakhir sebelum salam.
Perihal mempernyak do'a itu terdapat pada riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi saw pernah bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد؛ فأكثروا الدعاء
"Keadaan yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya ialah sewaktu dia sujud. Karena itu perbanyaklah do'a!". (HR. Muslim, Abu Dawud dan Al-Nasa'i.)
Terakhir, bagi mereka yang aktif melaksanakannya dalam shalat tahajud, akan memberikan bekas warna hitam pada bagian bawah dahinya.
Agama | fadilah dan keutamaan sujud pada shalat
