Cara mengubah takut menjadi berani. Bila Anda memiliki rasa takut, janganlah mengeluh. Sebab itu tandanya Anda normal sebagai manusia. Takut merupakan bagian tidak terpisahkan dari penciptaan manusia. Takut merupakan salah satu penampakan, naluri untuk mempertahankan diri (ghorizah baqa). Allah Swt berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS Al Baqarah Ayat 155).Karenanya, takut bukanlah sesuatu yang jelek. Yang penting, harus takut pada tempatnya. Bila perkara tersebut layak di takuti, maka takutlah, sedangkan perkara yang tidak layak di takuti jangan di takuti .
Takut terhadap bayangan
Rasa takut ada yang tidak pada tempatnya. Dan tentu saja keliru. Sebagai misal : dulu di kampung anak-anak maupun remaja setiap habis magrib di biasakan mengaji di mushola / surau. Belum ada listrik saat itu. Penerang jalan cukup obor. Bahkan seringkali hanya mengandalkan kerlap kerlipnya bintang. Itu pun kalau ada. Pada suatu hari sepulang mengaji anak-anak lari terbirit-birit. "Hantu.. hantu.. hantu.. ", teriak mereka. Saat mendengar hingar bingar tersebut uztadnya datang. Seraya membuktikan apa yang sebenarnya mereka lihat. Dia sempat kaget melihat bayangan putih bergerak-gerak di belakangnya. Setelah di selidiki dari deket, ternyata barang putih itu hanyalah sepotong mukena milik Bibi yang di jemur, lupa tidak di ambil. Angin malam meniupnya sehingga bergerak-gerak. "Bukan hantu ! Hantu itu tidak ada !", teriak sang Uztadz menenangkan murid-muridnya.
Kejadian kecil tadi memberikan pelajaran pada kita bahwa seringkali kemunculan rasa takut di akibatkan belum sempurnanya akal, seperti yang terjadi pada anak-anak. Atau di sebabkan tidak adanya pengetahuan yang utuh dan sempurna terhadap realitas yang tengah di hadapi. Banyak sekali dalam kehidupan sehari-hari orang takut akibat dua hal tadi. Katakan saja ada seorang karyawan yang mendengar bahwa Manager yang bernama A itu agak killer. Dia lantas takut pada Manager itu. Kebetulan saat pengumuman pelantikan jabatan. Manager itu menjabat pimpinannya. Akhirnya ia pun tidak berani menghadap kepadanya. Ia takut, namun setelah ia paksakan menemuinya kemudian berusaha mengenalnya lebih dekat, ceritanya menjadi lain. "Dia itu baik, Lho! kalau bilang dia killer itu bohong, Manager terlihat begitu, tapi sebenarnya baik sekali. Yang penting kitanya sopan". ujar dia pada rekan sekerja yang menakuti-nakutinya.
Ada cerita, seakan aneh tapi terjadi. Dulu ada seorang manusia. Ia tidak pernah berpergian. Ketika di tanya, alasanya, kalau berpergian naik pesawat terbang takut jatuh. Andai naik kapal laut takut tenggelam karena laut itu dalam, Menumpang bis atau angkot pun enggan, takut kecelakaan. Apalagi naik motor atau sepeda. Jalan kakipun hanya di kampung saja. Jangankan dipusat kota, di pinggiran kota saja ia tidak pernah melakukannya takut tertabrak kendaraan. Akibatnya ia tidak pernah kemana-mana kalaupun berpergian di tempuh dengan jalan kaki. Bayangan dan kekurang pahaman terhadap realitas memunculkan semua ini .
Begitu pula akibat bayangan seseorang tidak melakukan dakwah. Pada tahun 1989 ada seorang aktivis pengajian. Ia rajin mengaji. Namun takut memberikan ilmunya kepada orang lain. "Takut ia menolak apa yang saya sampaikan," ujarnya. Ketika di minta menyebarkan tulisan tentang kebobrokan demokrasi, ia pun keberatan. Alasanya, takut orang yang di berinya itu tidak setuju dengan isi tulisan tersebut. Memberi pengajian remaja pun enggan "Takut ada yang lebih pintar dari saya," dalihnya. Begitu pula ketika di ajak untuk bertemu dengan tokoh ia pun mengelaknya, Argumen yang di sodorkan lain lagi, takut di sebut masih anak ingusan. Sebelum tahu persis apakah dakwahnya di tolak, belum tahu persis betulkah orang itu setuju, belum paham ada orang yang lebih pintar akan mengejeknya, dan sebelum benar- enar tahu ia akan di sebut anak ingusan, ia sudah takut dahulu. Namun alhamdulilah, setelah dia berupaya untuk menghilangkan takut akan bayangan yang di ciptakannya sendiri, ia kini menjadi seorang aktivis dakwah yang handal.
Hal yang sama terjadi pula pada kematian. Tidak sedikit orang takut mati. Semua itu lahir dari informasi tentang realitas kematian tersebut. Tentu saja, Anda tahu bahwa ada tetangga, saudara atau bahkan mungkin Anda sendiri... melahirkan anak mati dalam kandungan, atau baru saja lahir di lahirkan ia harus diinkubasi, akhirnya pada usia 4 bulan meninggal juga, Begitu juga kemarin 2 orang anak umut 7 tahunan meninggal karena perang di Afganistan. Mati bukan hanya pada anak-anak pada seorang remaja, putri ataupun putra, pada sahabat dekat kita pada teman. Pada orang yang sudah tua. Kakek dan Nenek. Tanpa sakit ataupn dengan sakit dalam keadaan yang bagaimanapun. Kapanpun pasti datang tanpa mengenal usia, waktu tempat maupun keadaan. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindarinya apalagi menolaknya. Takut atau tidak, kematian pasti datang. Karenanya, tidak perlu takut mati. Sebab demikianlan realitas kematian. Yang penting di takuti adalah kematian dalam kemaksiatan "Kalau saya berdakwah, melakukan amar makruf nahi munkar. nanti kan kalau di tangkap penguasa zhalim siapa yang akan memberi makan anak-istri saya?" Ia berpikir se akan-akan tidak akan mati besok. Siapakah yang akan memberi makan anak-istri kalau kita besok meninggal? ....
Begitulah rasa takut akibat kurang utuhnya informasi, pengetahuan dan pemahaman tentang realitas. Sesuatu yang mestinya tidak ditakuti malahan membuatnya menjadi pengecut. Takut seperti ini merupakan takut terhadap bayang-bayang. Ia takut terhadap sesuatu yang ia khayalkan. Sekalipun realitasnya sangat boleh jadi bertolak belakang dengan bayangan yang ia khayalkan tadi. Bila ini terjadi jiwa siapapun, termasuk saya dan Anda, akan di selimuti oleh takut akan bayang-bayang. Muaranya serba takut. Lama-lama jadi penakut bahkan jadi pengecut.
Setiap orang tentu saja tidak ingin secara sengaja memiliki takut semacam ini. Untuk menghindarinya atau menghilangkan nya Insya Allah dapat di tempuh dengan salah satu cara berikut :
- Melakukan pendalaman (ta'ammuq) dan melihat dari deket sesuatu yang di takuti itu.
- Memberikan konsepsi sebenarnya sesuai realita tentang perkara yang menakutkannya.
- Menghilangkan sesuatu yang di takuti sekaligus atau bertahap hingga lenyap.
"Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang bertenteng atau di balik tembok. Permusuhan sesama mereka adalah sangat hebat. Kalian kira mereka itu bersatu padahal hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti (QS Al-Hasyr Ayat : 14).Begitu pula ia tidak takut dengan berdakwah sekalipun nyawa taruhannya, sebab dalam realitas nya kematian itu di tunggu atau tidak pasti datang.
Takut Akibat Tiada Pembanding
Atap bocor. Itulah yang di alami oleh Mas Genteng (bukan nam asli yach). Dia tidak berani naik keatap untuk memperbaikinya. Belum pernah selama hidupnya naik ke atas atap. Dia takut. Namun ketika bocornya semakin besar, ia mulai berpikir ulang. Komputer satu-satunya terancam kena bocoran, lantai banjir, kasur kena air hujan. Mencari tukang untuk memperbaikinya... kebetulan.. tidak ada. Perabot yang ada di geser-geser lagi. Tidak memungkinkan. Ia menghadapi dua pilihan : membiarkan atap dengan resiko segalanya rusak atau naik memperbaikinya yang kalaupun beresiko hanya berupa gemetar. Akhirnya, ia pun tegar membetulkannya. Bila tidak ada perbandingan kerusakan berbagai alat tadi, boleh jadi kisahnya menjadi lain. Inilah realitas sederhana munculnya rasa takut akibat tidak ada pembandingan.
Realitas lain adalah dalam pertempuran. Andaikan Anda seorang prajurit yang tengah berada di medan laga. Saat itu pertempuran sedang berkecamuk. Dentuman meriam terdengar dari segala penjuru, desingan peluru menyambar telinga, kepulan asap menutupi pandangan, dan suara pesawat tempur memekakan telinga. Musuh benar-benar berada di depan mata. Pada saat itu Anda berpikir bahwa bila Anda terus menggempur niscaya risikonya besar, boleh jadi pulang tinggal nama, istri lama di tinggal dan mungkin tidak akan dapat bersua kembali. Anak yang lagi lucu-lucunya lama tidak di timang. Muncullah di hati Anda keinginan lari tunggang langgang dari arena pertempuran. Rasa takut pun menyelimuti jiwa. Apalagi kesempatan untuk itu Anda pandang besar. Bila ini tolak ukur nya niscaya Anda akan benar-benar mengucapkan "selamat tinggal pertempuran". Berbeda halnya, jika Anda sebagai prajurit berpikir : "Andaikan saya tidak berperang, siapakah yang akan mempertahankan negeri muslim dari penjajah? bila semua orang berpikiran seperti tadi , tentu musuh akan gampang memporakpondakan. Bukan hanya saya yang celaka, kesatuan prajurit Islam akan kocar kacir akibat salah satu anggotanya berkhianat, Keluarga, masyarakat bahkan umat Islam keseluruhan pun akan mengalami kenestapaanya. Kaum muslim akan di rampas harta kekayaannya, kebudayaannya, kehidupan sosialnya, bahkan kehendaknya. "Bila ini yang Anda pikirkan niscaya kabur dari pertempuran tidak akan ada di benak Anda, dan tentu saja di benak saya juga. Lebih dari itu, keberanian menentang musuh pun semakin semakin menggelora, membakar dada. Anak, istri, tanah, rumah, motor, TV, buah-buahan dan hal lain terlupakan. Yang ada hanyalah gema : "Allahu Akbar... Allahu Akbar.. Allahu Akbar...!
Cerita-cerita tersebut memberikan pelajaran bagi kita bahwa seringkali rasa takut yang salah itu muncul akibat sekedar memikirikan keselamatan, kepentingan dan kerugian diri sendiri atau keluarga semata, tanpa membandingkannya dengan akibat yang akan menimpa umat secara keseluruhan bila melakukan hal sebaliknya. Dalam peristiwa tadi Anda membandingkan resiko bila Anda lari dari medan pertempuran, dan resiko bila tetap berada di medan pertempuran. Resiko dari bagian pertama hanya merugikan diri sendiri, sedangkan resiko tindakan kedua harus di tanggung oleh umat secara keseluruhan. Bila demikian Anda akan memilih tetap dalam pertempuran. Jiwa ksatria pun muncul dengan gagah berani. Dengan pembandingan tentang akibat yang terjadi bila melakukan sesuatu dengan akibat yang muncul dari tidak melakukannya akan membantu melenyapkan rasa takut yang tidak pada tempatnya.
Karenanya, tidak heran bila ketika kaum kafir Quraisy mengepung kaum muslimin, bukannya ketakutan yang muncul pada diri mereka, malahan hal itu melahirkan keberanian dan keimanan yang kian kokoh. Allah swt mengabadikan hal ini dalam Al Quran :
"(Yaitu) orang-orang (mentaati Allah swt dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan : Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah ke imanan mereka dan mereka menjawab : Cukuplah Allah swt.. Menjadi Penolong kami dan Allah swt adalah sebaik-baik Pelindung". (QS. Ali-Imran : 173).Para pengemban Dakwah yang mengambil pelajaran dari wahyu Allah Swt, tersebut tidak akan gentar sedikitpun sekalipun musuh dan sekutunya terus mengepung kaum muslim dari segenap panjuru. Mereka punya rudal, nuklir, pesawat tempur canggih, dana melimpah dan intelejen yang katanya hebat. Memang, begitulah realitasnya. Namun seorang mukmin tidak akan bergeming sedikit pun menghadapi semua itu."Hasbunallah wa ni'mal wakil", begitu bergemuruh dalam dadanya.
Contoh lain di sebuah RW ada satu rumah yang di jadikan sebagai tempat perjudian. Sebagian orang termasuk RW-nya takut menegur apalagi menghentikanya. Alasanya, orang itu punya backing Takut malah jangan-jangan keluarganya yang di ancam. Di balik ketakutan orang ada yang berpikir berbeda, sekalipun ada juga perasaan yang sama seperti mereka yaitu takut keluarganya dan dirinya terancam. Orang terakhir tersebut melihat bahwa bila ia melakukan pencegahan paling-paling dirinya yang babak belur karena di hajar. Sebaliknya bila tidak di cegah maka kemungkaran akan merajalela, perjudian semakin banyak pendukungnya, mendapatkan legalitas tidak langsung dari masyarakat, generasi akan terbawa jelek, dan Allah Swt akan murka kepada mereka. Kita lihat kelompok pertama hanya mendasarkan sikapnya pada kepentingan individual sesaat. Sebaliknya, kelompok kedua membandingkan antara akibat yang di timbulkan dari melakukan pencegahan kemungkaran dengan akibat mendiamkannya.
Senada dengan itu, seorang pengemban dakwah tidak akan takut dengan penguasa Zhalim dan penjaranya. Bila hanya karena menentang kezhaliman dan kekufuran, serta menuntut tegaknya hukum Islam dia harus meringkuk di penjara, tidaklah mengapa. Paling-paling yang menderita hanya dirinya sendiri saja. Kalaupun di siksa, istirahat 2 -3 hari pun kembali seperti semula. Begitu pikirnya. Pada sisi lain, bila kemungkaran penguasa itu di biarkan maka kriminalitas terus berkembang, pengurasan akhlak berlangsung tanpa henti, pengurasan harta rakyat berlanjut tidak berujung, hukum kufur gentayangan di setiap sudut perundang-undangan, aturan Islam di campakkan, umat di giring dan di seruke pintu jahannam, penjajah berwajah baru pun tetap bercokol. Bahkan di perbudak oleh kaum penjajah dan antek-anteknya. Hasilnya, umat tergolek tidak berdaya di bawah cengkeraman asing. Dengan pembandingan seperti ini, hilanglah rasa takut, pada penguasa zhalim dalam dirinya. Sebagai gantinya bangkitlah keberanianya, menyingsinglah fajar sikap ksatrianya. Mengiang di telinganya sabda Nabi Muhammad saw. :
"Jihad yang paling utama adalah mengatakan keadilan pada penguasa yang menyeleweng dari Islam". (HR. Abu Daud dan At Turmudzi ).Nampaklah bahwa rasa takut itu dapat muncul akibat terfokus memikirkan diri sendiri tanpa membandingkanya dengan akibat yang lebih dahsyat bahanyanya. Bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi masyarakat dan umatnya. Karena itu siapapun yang masih mengidap rasa takut seperti ini dapat mencoba mengenakan resep sekali lagi : membandingkan akibat yang terjadi bila melakukan sesuatu dengan akibat yang muncul dari tidak melakukannya.
Takut yang Berguna
Takut tidak selamanya jelek. Takut akan marabahaya yang realitasnya benar-benar bahaya merupakan takut yang wajar. Itu adalah sikap yang di benarkan oleh syara'. Baik yang di takutkan tertimpa bahaya itu diri sendiri atau pun umatnya. Rasulullah saw banyak memberikan contoh tentang hal ini. Karenanya, Anda tidak dikatakan pemberani bila menyuntikan obat ke dalam tubuh Anda sendiri seraya berkata : "Saya mah kagak takut penyakit gimana nanti saja!". Padahal Anda tahu bahwa jarum suntik yang Anda gunakan tidak steril. Jarum tersebut membawa virus yang menularkan penyakit. Saat Anda melakukan hal tersebut jangan tersinggung bila ada orang yang mengatakan bahwa Anda berbuat konyol. Anda tidak perlu khawatir di sebut penakut dengan tidak mau di suntik saat itu. Sebab takut terkena bahaya yang betul-betul merupakan bahaya adalah takut yang bermanfaat. Nabi Muhammad saw sendiri memerintahkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari bahaya semacam ini. Dahulu Umar bin Khathab beserta para sahabat tidak memasuki daerah yang di tuju setelah tahu bahwa di daerah tersebut tengah terjadi wabah penyakit tha'un. Begitu pula kekhawatiran terhadap masa depan aqidah anak. Seorang Bapak bercerita bahwa ia tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen. Alasan yang di ungkapkannya ia takut anaknya menjadi "tercemari" oleh kekufuran. Sekalipun akunya, kadangkala ia terjebak oleh mitos bahwa mutu sekolah tersebut luar biasa. Takut semacam ini merupakan takut yang pada tempatnya. Sebab, realitasnya sekolah Kristen itu secara halus hingga terbuka mengkikis aqidah anak didiknya yang Muslim. Saat sholat Jum'at misalnya ada acara : pendidikan agama Islam tidak di berikan, acara-acara yang di selenggarakan sarat dengan nilai Kristen, proses belajar-mengajar di dasari tata cara mereka. Andai saja bapak tadi tidak merasa takut akan pengikisan 'aqidah Islam anaknya, orang akan bertanya : Di mana tanggung jawab dia dalam mengarahkan sang anak ke jalan Islam? Padahal Allah SWT menegaskan :
"Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah swt dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". (QS. An-Nisa Ayat : 9 )Jadi takut anak lemah mentalnya, jiwanya, fisiknya, terlebih lagi lemah Aqidah dan keterikatannya terhadap hukum Allah Swt, merupakan perkara wajar, bahkan harus. Demikian halnya dengan takut umat Islam di timpa bahaya. Rasulullah saw adalah sosok yang sangat mengkhawatirkan umatnya di timpa mara bahaya. Suatu waktu Nabi saw, duduk di atas mimbar di tengah-tengah para sahabat. Saat itu beliau bersabda :
"Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kamu sekalian sepeninggalku nanti adalah terbukanya kemewahan dan keindahan duunia". (HR. Imam Bukhari Muslim)Dalam hadits yang lain Beliau berdua meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Demi Allah, bukanlah kemisikinan yang aku khawatirkan atas kalian tetapi aku khawatir kalau-kalau kekayaan dunia ini di hamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah di hamparkan atas orang-orang sebelum kalian. Lantas, kalian akan berlomba-lomba pada kekayaan sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba pada kekayaan. Kemudian, kekayaan itu akan membinasakan kalian sebagaimana kekayaan itu membinasakan mereka."Inilah teladan dari Rasulullah saw yang penuh inspirasi. Karenanya, setiap muslim, apalagi pengemban dakwah mutlak merasa khawatir persekongkolan antara penguasa munafik dengan negara kafir imperalis terus menina bobokan umat Islam, kebebasan Pers yang liar dikhawatirkan justru semakin memerosokkan generasi umat ke jurang kemaksiatan seperti di saksikan saat sekarang, kristenisasi yang di anggap sepele oleh penguasa dikhawatirkan terus menggerus keimanan kaum muslim, bercokolnya perusahaan-perusahaan asing yang di khawatirkan terus menguras habis kekayaan negeri negeri muslim, perjanjian-perjanjian militer antara negeri muslim, pembantain terhadap rakyat muslim dikhawatirkan akan mengurangi atau bahkan memberangus generasi Islam disana, pendidikan yang kini memisahkan agama dari kehidupan dan negara di khawatirkan (bahkan sudah terbukti) semakin menjauhkan Islam dari umatnya dan umatnya dari Islam serta setumpuk bahaya lain. Oleh karena itu penting untuk terus membongkar bahaya-bahaya dari kezhaliman penguasaa dan rencana jahat negara kafir imperalisme yang akan manimpa atau di limpahkan kepada umat Islam. Didorong oleh kenyataan ini kaum muslimin dengan berbekal keihlasan akan secara berani mengungkap hal-hal yang membahayakan umat Islam seperti tadi. Juga umat senantiasa waspada terhadap hal-hal yang membahayakan mereka, disamping terus menerus mengatasi bahaya yang sedang menimpanya.
Takut pada Allah swt Pemacu Keberanian
Suatu waktu Abu Umamah Shuday bin ' Ajlan Al Bahiliy Ra menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah swt melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah Swt dan tetesan darah yang menetes sewaktu berjuang pada jalan Allah swt. Adapun dua bekas yaitu bekas (luka) sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas dari menjalankan kewajiban-kewajiban Allah Ta'ala". (HR. Imam Turmudzi).
Dalam hadits tersebut nampak bahwa Allah swt mensejajarkan antara takut kepada Allah swt dengan jihad di jalan Allah swt. Ini menunjukkan betapa rasa takut kepada Allah Dzat Maha Perkasa tersebut memiliki kedudukan yang demikian tinggi. Saking pentingnya takut kepada Allah tersebut Rasulullah saw menyatakan:
"Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah itu tidak akan masuk neraka hingga air susu itu kembali ke dalam tetek. Dan debu yang menempel karena berjuang pada jalan Allah itu tidak akan bisa berkumpul dengan asap neraka jahannam". (HR. At-Turmudzi)
Terang sekali, balasan mereka yang takut kepada Allah swt itu adalah tidak akan pernah masuk neraka. Adanya pernyataan kemustahilan (masuknya kembali air susu ibu kedalam tetek ibu, atau susu sapi ke dalam tetek sapi) menegaskan hal tersebut. Al Quran sendiri banyak memerintahkan manusia untuk takut kepada Allah swt. Misalnya Firman Allah Dzat Maha Gagah tentang dorongan bagi kaum muslimin untuk tidak gentar terhadap musuh :
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku. Jika kalian benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali-Imran Ayat 175 )
"Karena itu, janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku, dan janganlah kalian menukar ayat- ayatKu dengan harga yang sedikit". (QS. Al-Maidah Ayat 44)
Sementara itu realisasi dari sikap takut kepada Allah swt tersebut adalah tunduk dan patuh kepada-Nya. Berkaitan dengan konteks ini Al-Quran menggambarkan:
"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perempumaan itu Kami buat untuk manusia supaya berfikir". (QS. Al-Hasyr Ayat : 21)
Seorang Muslim yang takut kepada Allah swt akan senantiasa membandingkan takut kepada selain Allah swt dengan takut kepada Allah swt. Dan dia lebih takut kepada-Nya. Bukan seperti orang munafik yang takut kepada manusia sama dengan takutnya kepada Allah Rabbul ' Alamin atau melebihinya.
"Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang di katakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang) dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!". Setelah di wajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya mereka berkata : "Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan hal itu kepada kami beberapa waktu lagi? "Katakanlah! kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan di zhalimi sedikitpun." ( QS. An-Nisa Ayat : 77 )
Karena itu seorang muslim yang sadar, akan senantiasa lebih takut pada Allah swt daripada takut kepada yang lainya, caranya lebih mengutamakan perintah Allah Dzat Maha Perkasa. Tidaklah mengherankan apa yang di lakukan oleh para sahabat Rasulullah saw, saat berhijrah mereka harus meninggalkan harta kekayaan, anak saudara, bahkan kampung halaman tercinta. Perjalanan yang harus di laluinya pun bukanlah daerah yang aman, melainkan penuh dengan tindak perampokan dan kejahatan lainnya. Jarak yang harus di tempuhnya pun bukan sehari dua hari. Sengatan terik matahari, dinginnya malam dan tiupan angin kencang pembawa pasir menanti di perjalanan. Sementara itu orang-orang kafir Quraisy siap mengejar dari belakang. Wajar, andai saja para sahabat (laki - laki / perempuan) dan anak-anaknya merasakan takut. Mereka adalah menusia biasa seperti kita. Namun, mengapa rasa takut tersebut tidak di perturutkan nya? sebab hijrah merupakan kewajiban dari Allah swt daripada takutnya kepada mahluk.
Untuk itu seorang mukmin, terutama pengemban dakwah, akan senantiasa membandingkan antara apa yang terjadi di dunia dengan akibat yang akan di perolehnya di akhirat bila tidak mentaati perintah Allah swt. Pikirannya terfokus pada kebahagiaan nya di akhirat tanpa melupakan dunia. Andaikan hanya ada dua pilihan 'celaka di dunia atau kah celak di akhirat' ia lebih memilih celaka di dunia. Asalkan di akhirat selamat dan bahagia. Kita boleh saja merasa takut kepada penguasa. Namun, rasa takut tersebut jangan sampai manjadikan kita tidak melakukan Amar makruf nahi munkar kepada mereka. Bila demikian berati kita telah melanggat perintah Allah swt pencipta kita. Dengan pernyataan lain kita lebih takut kepada penguasa dari pada penguasa alam semesta. Buktinya tidak barani melanggar penguasa, tapi berani meninggalkan perintah Allah Dzat Maha Kuasa. Padahal tidak ada siksa dari suatu mahluk yang melebihi siksa yang menyamai apalagi melebihi siksa Allah swt.
Begitulah, setiap muncul rasa takut Anda terhadap mahluk dalam bermaksiat kepada Allah swt bersegeralah ingat bahwa Allah swt.... karena Dia-lah sesuatu yang berhak untuk di takuti . Hal ini baru akan dimiliki dengan cara mempraktekkanya!. Siapapun Anda bila telah memahami karakteristik takut seperti tadi, lalu menerapkannya secara konsisten, Insya Allah takut akan menjelma menjadi sikap berani di jalan Allah Swt. Syaratnya : sabar, sungguh-sungguh, konsisten dan terus menerus. Yang penting sesuai dengan yang Anda alami. Lalu lakukanlah penuh kesabaran, kekhusyukan, kekonsistenan, kekontinyuan dan kesungguhan. Waktu yang tepat menurut pengalaman adalah setelah dzikir sesudah sholat. Misalnya katakanlah :
" Ya Allah, aku ini hamba yang kabur dari-Mu. ketika seruan-Mu di waktu shubuh aku masih mengantuk, sholatpun hampa dari kekhusyuan, Adzan Dzuhur menggema aku masih sibuk dengan pekerjaan kantor . Waktu Ashar memanggil, kau masih di perjalanan. Magrib manghanyut, aku baru sampai penuh lelah. Saat baru mulai istirahat Adzan Isya' telah memanggil. Ya Allah, kekhusyuan ku kini entah di mana?. Ya Rabbi ketika Engkau menyeru aku tidak menyahutnya, seakan aku ini tuli. Aku sadar, dakwah adalah kewajiban, namun aku hanya menyambutnya sekali-kali. Itupun tidak penuh kesungguhan. Pekerjaan, kuliah Praktikum, urusan rumah tangga dan anak sarat memenuhi benakku. Sementara kemungkaran di sana-sini aku tidak peduli. Butakah engkau wahai jiwaku? Di tengah umat dalam kubangan kemaksiatan dan kekufuran, aku masih berkutat dengan kepentingan sendiri. Ya Allah Rabbul "Izzati, bila demikian, layakkah aku masuk dalam sorga-Mu? Layakkah aku terhindar dari Siksa-Mu? Berhak kah aku Engkau panggil dengan sapaan mesra Ya Ayyatuhan nafsul muthmainnah?.. Ya Allah Jadikanlah diriku benar-benar takut kepada-Mu. Ya Allah.., hanya Engkau yang dapat mengabulkannya"....
Alhamdulillah postingan mengubah perasaan takut menjadi berani ini saya akhiri... Semoga bisa bermanfaat dan berfaedah bagi kita semua.
Pergaulan | Tips dan Cara Mengubah Takut Menjadi Berani, hanya kepada Allah,
