Kejaiban-keajaiban yang terjadi baik atau buruk,j ika kalian cermati seharusnya bisa membuka hatimu menjadi sadar. (Abdullah bin Qasim Al-Qurasyi)
Seorang lelaki tak henti-henti menangis dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Betapa tidak, ia dikarunia bayi kembar siam dengan kondisi yang rumit. Badan Abdurahman dan Abdurahim, nama bayi itu, bersatu dan berbagi usus besar sampai pihak Rumah Hasan Sadikin Bandung harus melakukan operasi pembuatan dubur. Bagi pasangan Asep dan Rodiah peristiwa itu mengguncang batin. Dan bagi siapa saja, selain menggugah simpati secara sosial, juga memberi kesadaran akan kejaiban penciptaan. Ketika sebenarnya segala yang ada adalah keajaiban. Namun karena berjalan rutinitas sesuai hukum yang berlaku maka terasa biasa dan menumpulkan ketajaman batin kebanyakan orang.
Dari Napoli, Italia. Seorang nenek berusia 52 tahun, Antoniwtta Mellone, melahirkan bayi kembar tiga dalam kondisi baik. Para dokter mengatakan kasus seperti itu terjadi satu banding semiliar karena kesempatan wanita berusia diatas 50 tahun lebih untuk hamil spontan adalah 0, 0016 persen.
Maha Suci Allah, Yang Berkuasa menciptakan segala sesuatu dengan segala kemungkinannya. Keajaiban penciptaan mengantarkan pada keajaiban berikutnya : keajaiban kehidupan.
Kehidupan itu sendiri penuh misteri, terkadang mengaduk-aduk segala logika dan pemuncakan keahlian dengan beragam disiplin ilmu.
Dari Sudan, Pesawat Boeing 737 milik Sudan Airways yang sedang dalam penerbangan dari Port Sudan di Pantai Timur Laut ke Khortum menghantam bukit. Seluruh awak sebanyak 11 orang dan 105 penumpang tewas. Satu-satunya yang selamat adalah Mohamad al-Fateh Osman, bayi berusia tiga tahun. Sedang ibunya sendiri tewas. Al-Fateh dilaporkan dalam kondisi stabil meski kehilangan kaki kanannya. Selanjutnya, atas biaya Presiden UAE , Sheikh Zayed bin Sultan al-Nahyan bayi itu dirawat di London.
Dari Amerika, Tery Wallis sadar kembali setelah koma selama 19 tahun. Juli 1984, Ia mengendarai mobil bersama temannya di daerah Stone Country Arkansas. Ketika melalui rel kereta api, mobil terlempar sejauh 25 kaki ke tebing sungai dan jatuh terguling-guling. Keduanya ditemukan keesokan harinya dalam keadaan koma sedangkan temannya tewas. Terry dirawat di rumah perawatan Stone Contry Nursing and Rehabilitation Centre. Sang Ibu dengan sabar mengunjunginya tiap hari meski harus menempuh 26 mil perjalanan. Waktu berjalan seperti biasa. Hingga suatu hari Angilee, ibu Terry, ke kamar tempat perawatan dan menyapa seperti biasanya, “ Halo, Terry, lihat siapa yang datang mengunjungimu ?”. Mendadak mulut Terry yang selama ini membeku merespon, “ Mom...,” sahutnya. Angilee terkejut. “Rasanya seperti jatuh di atas lantai,” ucap Angilee. Tak hanya ibunya, si perawat juga terkejut.
Dari Jakarta, Subiyanto, seorang veteran pejuang empat puluh lima meninggal sehari setelah istrinya dikuburkan. Sebelumnya ia beserta anak-anak mengantarkan jenazah istrinya yang dimakamkan di Yogyakarta.
Penciptaan, kehidupan, dan kematian memang keajaiban yang abadi. Tetapi sering kali hal itu tak kunjung menyadarkan. Bahkan kebanyakan manusia yang diberi hidup, berusia panjang, tak mampu memberi makna atas segala wujud dan kehidupannya. Maka keajaiban seperti halnya bayi yang lahir tak lazim, nenek yang melahirkan kembar tiga, selamatnya bayi dalam sebuah kecelakaan, lelaki yang sadar setelah koma 19 tahun adalah hentakan kesadaran.
Ketidaklaziman memang mengguncang kesadaran. Tapi sungguh menyedihkan bila hanya dengan cara itu manusia menjadi sadar. Itu berarti kita menuggu korban-korban baru untuk menyadarkan. Karena terkadang hentakan kesadaran berakibat korban seperti pada kecelakaan pesawat di Libya.
Keajaiban yang yang tak kunjung menyadarkan ibarat seember air panas yang tak membakar tenggorokan. Bukan karena air tapi tenggorokannya kelewat bebal.
“ Dialah Allah yang Menciptakan. Yang Membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama paling baik.” (Al-Hasyr : 24)
AGAR KEAJAIBAN MENYADARKAN
Setiap peristiwa pasti bermakna. Tidak ada yang diciptakan sia-sia tanpa makna. Keajaiban-keajaiban mulai sering terjadi di dunia ini mencirikan akan datangnya kejaiban yang beruntun. “ Peristiwa-peristiwa ajaib itu laksana untaian kalung saling berdekatan satu sama lain,” sabda Nabi ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat.
Keajaiban akan menjadi biasa dan tidak ajaib lagi ketika dibiarkan pergi tanpa makna. Padahal pada setiapa peristiwa besar terselip pelajaran besar penambah iman dan penguat langkah kaki di kehidupan ini. Agar kejaiban tidak berlalu tanpa makna maka jawablah pertanyaan berikut ini :
Pertama, Jernihkah Hati Kita Menerima Segala Ketetapan-Nya
Keajaiban sebagai ketetapan Allah terkadang menyenangkan dan terkadang menyedihkan kita.
Hati adalah tempat menggagas dan memutuskan peristiwa. Dari hatilah berawal sikap sedih, senang, menggerutu. Kontrol gerak-gerik tubuh pun oleh hati.
Hati seorang muslim bukan hati orang biasa. Hatinya bersih, jernih dan bercahaya. Sinarnya bisa tembus ke raut wajah dan bisa dirasakan orang lain yang sekedar memandangnya.
Kesabaran untuk mensikapi ketetapan Allah yang menyedihkan membuktikan seberapa jernih hati kita. Ali bin Abi Thalib berkata, “ Kesabaran dengan keimanan seperti kepala dengan tubuh. Tidak ada keimanan orang yang tidak memiliki kesabaran.”
Kedua, Adakah Setiap Peristiwa Membuat Kita Lebih Dewasa ?
Adakah kita meneladani Umar bin Abdul Aziz yang menjadikan momen mengejutkan merubah hidupnya ? Ketika suatu hari ia memukul seorang anak kecil didorong perasaan ‘aku’ sebagai keluarga khalifah ? Anak kecil itu tidak membalas , hanya berkata, “ Umar, bayangkanlah ketika kamu memukul itu di waktu malan yang paginya adalah kiamat. “ Kata-kata pendek tapi dalam maknanya, mengejutkan dan membuat Umar lebih dewasa.
Jangan sampai kita seperti orang musyrik Quraisy yang menyaksikan keajaiban namun malah menjadikan mereka semakin mendustakan kebenaran. Alih-alih membuat beriman malah semakin menjauhkan mereka dari Islam.
Padahal mereka sendiri yang meminta diperlihatkan kemu’jizatan Rasul dengan membelah bulan. Pada malam purnama Nabi menggerakkan jarinya ke langit dan terbelahlah bulan. Belahan bulan nampak di bukit sedang belahan lain nampak di balik bukit yang lain. Mereka tercengang. Tapi menghina Nabi seperti diceritakan dalam Surat Al-Qamar : 1-2,” Telah dekat saat itu dan terbelahlah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda mu’jizat, mereka berpaling dan berkata : (Ini adalah) sihir yang terus menerus.”
Ketiga, Seringkah Kita Menghadirkan Allah di Setiap Pandangan Mata ?
Keajaiban alam dan kehidupan menunjukkan keagungan penciptanya. Setiap kita mendengar dan melihat keajaiban adakah kebesaran Allah muncul dalam hati kita. Suguhan alam semesta dan dan makhluk Allah yang lain dimaksudkan untuk menguatkan iman dan menambah rasa takut kepada Allah.
“ Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Itulah ungkapan yang keluar dari seseorang yang menyaksikan keajaiban yang dialaminya. Di ayat lain Allah memperjelas keajaiban alam semesta mulai dari hujan, taman, sungai, gunung, pemisah, di antara dua laut dengan mengulang-mengulang pada tiap akhir ayat “ Apakah di samping Allah ada tuhan lain ?”
Melihat kejaiban bukan sekedar membelakakan mata lalu terpaku tanpa spiritual. Harus tergambar dengan jelas pada setiap keajaiban kebesaran Allah sehingga keluar kata-kata pujian dan semakin tertanam tiada tuhan selain Allah.
Ini adalah bentuk latihan menghadirkan Allah dalam jiwa pada setiap kesempatan.
Seorang muslim harus selalu menjadikan Allah tempat kembali.
Pada suatu perjalanan haji Muslim bin Yasar tersesat di malam hari yang pekat. Saking gelapnya mereka tidak sanggup melihat wajah satu sama lain. Suasana mencekam hingga pagi. Ternyata mereka telah berada di dekat gunung Tihamah, daerah yang mereka kenal. Muslim bin Yasar mengingatkan, “ Apa yang kalian herankan, inilah kekuasaan Allah Ta’alaa.
Keempat, Enggankankah kita Merunduk ke Bawah Menggali Kekayaan Makna ?
Pada setiap yang baru selalu ada makna baru. Kekayaan makna tidak hanya bisa diambil dari mereka yang di atas kita secara pengalaman, ilmu dan senioritas. Tapi juga dari orang-orang di bawah kita.
“ Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari umat Islam. Di mana saja dia mendapatkannya maka dia lebih berhak terhadap ilmu itu. “ begitu pesan Nabi.
Kejaiban seharusnya menjadi ajang bertanya pada siapa saja yang lebih tahu.
Kelima, Adakah Do’a Menjadi Tumpuan Kekuatan Kita
Kegamangan, keraguan, tanda tanya selalu terjadi setiap menghadapi keajaiban baru yang muncul. Banyak masalah yang jawabannya adalah serba mungkin. Tidak ada yang pasti. Sementara penyelesaiannya harus pasti.
Do’a adalah penyelesaian dari semua kegamangan. Keraguan akan berubah menjadi kepasrahan. Kegamangan akan berubah menjadi keyakinan di atas kehendak-Nya.
Maka, adakah do’a menjadi bagian besar dalam hidup kita. Menjadi tumpuan kekuatan kita dalam menghadapi dalam menghadapi tantangan dan keajaiban peristiwa.
Jangan Selalu Menunggu Keajaiban
Hidup ini adalah kenyataan yang harus diraih dan diusahakan. Pekerjaan yang harus direncakan.
Selalu mengharapkan keajaiban, berpangku tangan menunggu menjelmanya kemustahilan jelas tidak boleh. Karena kita tidak tahu apakah keajaiban itu akan memihak kita atau tidak.
Masalah yang mengganjal langkah kita, problem yang mengaburkan pandangan kita harus dicari solusinya dengan usaha nyata. Membangun masa depan diatas kenyataan, bukan di atas keajaiban.
Umar bin Khotob adalah salah seorang sahabat yang beberapa kali mendapatkan keajaiban. Ketika suaranya di Madinah bisa didengar dari NegerI seberang. Dengan suara itu pasukan musimin yang terdesak selamat. Sekalipun demikian Umar tidak pernah berpangku tangan dan diam menunggu keajaiban berpihak kepadanya.
Dialah yang berkata,”Bekerja keraslah karena tidak ada kenikmatan yang abadi". Suatu saat ia memarahi orang yang mengangkat tangannya untuk bermunajat memohon rizki dari Allah tanpa usaha. “ Langit tidak akan pernah menurunkan hujan emas”, katanya
Seorang lelaki tak henti-henti menangis dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Betapa tidak, ia dikarunia bayi kembar siam dengan kondisi yang rumit. Badan Abdurahman dan Abdurahim, nama bayi itu, bersatu dan berbagi usus besar sampai pihak Rumah Hasan Sadikin Bandung harus melakukan operasi pembuatan dubur. Bagi pasangan Asep dan Rodiah peristiwa itu mengguncang batin. Dan bagi siapa saja, selain menggugah simpati secara sosial, juga memberi kesadaran akan kejaiban penciptaan. Ketika sebenarnya segala yang ada adalah keajaiban. Namun karena berjalan rutinitas sesuai hukum yang berlaku maka terasa biasa dan menumpulkan ketajaman batin kebanyakan orang.
Dari Napoli, Italia. Seorang nenek berusia 52 tahun, Antoniwtta Mellone, melahirkan bayi kembar tiga dalam kondisi baik. Para dokter mengatakan kasus seperti itu terjadi satu banding semiliar karena kesempatan wanita berusia diatas 50 tahun lebih untuk hamil spontan adalah 0, 0016 persen.
Maha Suci Allah, Yang Berkuasa menciptakan segala sesuatu dengan segala kemungkinannya. Keajaiban penciptaan mengantarkan pada keajaiban berikutnya : keajaiban kehidupan.
Kehidupan itu sendiri penuh misteri, terkadang mengaduk-aduk segala logika dan pemuncakan keahlian dengan beragam disiplin ilmu.
Dari Sudan, Pesawat Boeing 737 milik Sudan Airways yang sedang dalam penerbangan dari Port Sudan di Pantai Timur Laut ke Khortum menghantam bukit. Seluruh awak sebanyak 11 orang dan 105 penumpang tewas. Satu-satunya yang selamat adalah Mohamad al-Fateh Osman, bayi berusia tiga tahun. Sedang ibunya sendiri tewas. Al-Fateh dilaporkan dalam kondisi stabil meski kehilangan kaki kanannya. Selanjutnya, atas biaya Presiden UAE , Sheikh Zayed bin Sultan al-Nahyan bayi itu dirawat di London.
Dari Amerika, Tery Wallis sadar kembali setelah koma selama 19 tahun. Juli 1984, Ia mengendarai mobil bersama temannya di daerah Stone Country Arkansas. Ketika melalui rel kereta api, mobil terlempar sejauh 25 kaki ke tebing sungai dan jatuh terguling-guling. Keduanya ditemukan keesokan harinya dalam keadaan koma sedangkan temannya tewas. Terry dirawat di rumah perawatan Stone Contry Nursing and Rehabilitation Centre. Sang Ibu dengan sabar mengunjunginya tiap hari meski harus menempuh 26 mil perjalanan. Waktu berjalan seperti biasa. Hingga suatu hari Angilee, ibu Terry, ke kamar tempat perawatan dan menyapa seperti biasanya, “ Halo, Terry, lihat siapa yang datang mengunjungimu ?”. Mendadak mulut Terry yang selama ini membeku merespon, “ Mom...,” sahutnya. Angilee terkejut. “Rasanya seperti jatuh di atas lantai,” ucap Angilee. Tak hanya ibunya, si perawat juga terkejut.
Dari Jakarta, Subiyanto, seorang veteran pejuang empat puluh lima meninggal sehari setelah istrinya dikuburkan. Sebelumnya ia beserta anak-anak mengantarkan jenazah istrinya yang dimakamkan di Yogyakarta.
Penciptaan, kehidupan, dan kematian memang keajaiban yang abadi. Tetapi sering kali hal itu tak kunjung menyadarkan. Bahkan kebanyakan manusia yang diberi hidup, berusia panjang, tak mampu memberi makna atas segala wujud dan kehidupannya. Maka keajaiban seperti halnya bayi yang lahir tak lazim, nenek yang melahirkan kembar tiga, selamatnya bayi dalam sebuah kecelakaan, lelaki yang sadar setelah koma 19 tahun adalah hentakan kesadaran.
Ketidaklaziman memang mengguncang kesadaran. Tapi sungguh menyedihkan bila hanya dengan cara itu manusia menjadi sadar. Itu berarti kita menuggu korban-korban baru untuk menyadarkan. Karena terkadang hentakan kesadaran berakibat korban seperti pada kecelakaan pesawat di Libya.
Keajaiban yang yang tak kunjung menyadarkan ibarat seember air panas yang tak membakar tenggorokan. Bukan karena air tapi tenggorokannya kelewat bebal.
“ Dialah Allah yang Menciptakan. Yang Membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama paling baik.” (Al-Hasyr : 24)
AGAR KEAJAIBAN MENYADARKAN
Setiap peristiwa pasti bermakna. Tidak ada yang diciptakan sia-sia tanpa makna. Keajaiban-keajaiban mulai sering terjadi di dunia ini mencirikan akan datangnya kejaiban yang beruntun. “ Peristiwa-peristiwa ajaib itu laksana untaian kalung saling berdekatan satu sama lain,” sabda Nabi ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat.
Keajaiban akan menjadi biasa dan tidak ajaib lagi ketika dibiarkan pergi tanpa makna. Padahal pada setiapa peristiwa besar terselip pelajaran besar penambah iman dan penguat langkah kaki di kehidupan ini. Agar kejaiban tidak berlalu tanpa makna maka jawablah pertanyaan berikut ini :
Pertama, Jernihkah Hati Kita Menerima Segala Ketetapan-Nya
Keajaiban sebagai ketetapan Allah terkadang menyenangkan dan terkadang menyedihkan kita.
Hati adalah tempat menggagas dan memutuskan peristiwa. Dari hatilah berawal sikap sedih, senang, menggerutu. Kontrol gerak-gerik tubuh pun oleh hati.
Hati seorang muslim bukan hati orang biasa. Hatinya bersih, jernih dan bercahaya. Sinarnya bisa tembus ke raut wajah dan bisa dirasakan orang lain yang sekedar memandangnya.
Kesabaran untuk mensikapi ketetapan Allah yang menyedihkan membuktikan seberapa jernih hati kita. Ali bin Abi Thalib berkata, “ Kesabaran dengan keimanan seperti kepala dengan tubuh. Tidak ada keimanan orang yang tidak memiliki kesabaran.”
Kedua, Adakah Setiap Peristiwa Membuat Kita Lebih Dewasa ?
Adakah kita meneladani Umar bin Abdul Aziz yang menjadikan momen mengejutkan merubah hidupnya ? Ketika suatu hari ia memukul seorang anak kecil didorong perasaan ‘aku’ sebagai keluarga khalifah ? Anak kecil itu tidak membalas , hanya berkata, “ Umar, bayangkanlah ketika kamu memukul itu di waktu malan yang paginya adalah kiamat. “ Kata-kata pendek tapi dalam maknanya, mengejutkan dan membuat Umar lebih dewasa.
Jangan sampai kita seperti orang musyrik Quraisy yang menyaksikan keajaiban namun malah menjadikan mereka semakin mendustakan kebenaran. Alih-alih membuat beriman malah semakin menjauhkan mereka dari Islam.
Padahal mereka sendiri yang meminta diperlihatkan kemu’jizatan Rasul dengan membelah bulan. Pada malam purnama Nabi menggerakkan jarinya ke langit dan terbelahlah bulan. Belahan bulan nampak di bukit sedang belahan lain nampak di balik bukit yang lain. Mereka tercengang. Tapi menghina Nabi seperti diceritakan dalam Surat Al-Qamar : 1-2,” Telah dekat saat itu dan terbelahlah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda mu’jizat, mereka berpaling dan berkata : (Ini adalah) sihir yang terus menerus.”
Ketiga, Seringkah Kita Menghadirkan Allah di Setiap Pandangan Mata ?
Keajaiban alam dan kehidupan menunjukkan keagungan penciptanya. Setiap kita mendengar dan melihat keajaiban adakah kebesaran Allah muncul dalam hati kita. Suguhan alam semesta dan dan makhluk Allah yang lain dimaksudkan untuk menguatkan iman dan menambah rasa takut kepada Allah.
“ Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Itulah ungkapan yang keluar dari seseorang yang menyaksikan keajaiban yang dialaminya. Di ayat lain Allah memperjelas keajaiban alam semesta mulai dari hujan, taman, sungai, gunung, pemisah, di antara dua laut dengan mengulang-mengulang pada tiap akhir ayat “ Apakah di samping Allah ada tuhan lain ?”
Melihat kejaiban bukan sekedar membelakakan mata lalu terpaku tanpa spiritual. Harus tergambar dengan jelas pada setiap keajaiban kebesaran Allah sehingga keluar kata-kata pujian dan semakin tertanam tiada tuhan selain Allah.
Ini adalah bentuk latihan menghadirkan Allah dalam jiwa pada setiap kesempatan.
Seorang muslim harus selalu menjadikan Allah tempat kembali.
Pada suatu perjalanan haji Muslim bin Yasar tersesat di malam hari yang pekat. Saking gelapnya mereka tidak sanggup melihat wajah satu sama lain. Suasana mencekam hingga pagi. Ternyata mereka telah berada di dekat gunung Tihamah, daerah yang mereka kenal. Muslim bin Yasar mengingatkan, “ Apa yang kalian herankan, inilah kekuasaan Allah Ta’alaa.
Keempat, Enggankankah kita Merunduk ke Bawah Menggali Kekayaan Makna ?
Pada setiap yang baru selalu ada makna baru. Kekayaan makna tidak hanya bisa diambil dari mereka yang di atas kita secara pengalaman, ilmu dan senioritas. Tapi juga dari orang-orang di bawah kita.
“ Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari umat Islam. Di mana saja dia mendapatkannya maka dia lebih berhak terhadap ilmu itu. “ begitu pesan Nabi.
Kejaiban seharusnya menjadi ajang bertanya pada siapa saja yang lebih tahu.
Kelima, Adakah Do’a Menjadi Tumpuan Kekuatan Kita
Kegamangan, keraguan, tanda tanya selalu terjadi setiap menghadapi keajaiban baru yang muncul. Banyak masalah yang jawabannya adalah serba mungkin. Tidak ada yang pasti. Sementara penyelesaiannya harus pasti.
Do’a adalah penyelesaian dari semua kegamangan. Keraguan akan berubah menjadi kepasrahan. Kegamangan akan berubah menjadi keyakinan di atas kehendak-Nya.
Maka, adakah do’a menjadi bagian besar dalam hidup kita. Menjadi tumpuan kekuatan kita dalam menghadapi dalam menghadapi tantangan dan keajaiban peristiwa.
Jangan Selalu Menunggu Keajaiban
Hidup ini adalah kenyataan yang harus diraih dan diusahakan. Pekerjaan yang harus direncakan.
Selalu mengharapkan keajaiban, berpangku tangan menunggu menjelmanya kemustahilan jelas tidak boleh. Karena kita tidak tahu apakah keajaiban itu akan memihak kita atau tidak.
Masalah yang mengganjal langkah kita, problem yang mengaburkan pandangan kita harus dicari solusinya dengan usaha nyata. Membangun masa depan diatas kenyataan, bukan di atas keajaiban.
Umar bin Khotob adalah salah seorang sahabat yang beberapa kali mendapatkan keajaiban. Ketika suaranya di Madinah bisa didengar dari NegerI seberang. Dengan suara itu pasukan musimin yang terdesak selamat. Sekalipun demikian Umar tidak pernah berpangku tangan dan diam menunggu keajaiban berpihak kepadanya.
Dialah yang berkata,”Bekerja keraslah karena tidak ada kenikmatan yang abadi". Suatu saat ia memarahi orang yang mengangkat tangannya untuk bermunajat memohon rizki dari Allah tanpa usaha. “ Langit tidak akan pernah menurunkan hujan emas”, katanya
Serba Serbi | AGAR KEAJAIBAN MENYADARKAN
